š DETAIL METADATA KEGIATAN
Peta Ketahanan Dan Kerentanan Pangan Kota Surabaya / Food Security And Vulnerability Atlas 2024
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya
Statistik Sektoral
Kompilasi Produk Administrasi
Pertanian dan Perikanan
15 Var
6 Ind
Informasi Umum
Identitas & penyelenggara kegiatan
ID Kegiatan Indah
#61875
Judul Kegiatan
Peta Ketahanan Dan Kerentanan Pangan Kota Surabaya / Food Security And Vulnerability Atlas
Tahun Kegiatan
2024
Cara Pengumpulan Data
Kompilasi Produk Administrasi
Sektor Kegiatan
Pertanian dan Perikanan
Jenis Kegiatan Statistik
Statistik Sektoral
Identitas Rekomendasi
-
Penyelenggara
Instansi penyelenggara
Instansi Penyelenggara
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya
Alamat Lengkap
Jl. Pagesangan II No. 56, Surabaya
Telepon
031-8282328
Faksimile
031-8282328
Email
dinasdkppsby@surabaya.go.id
Penanggung Jawab
Eselon & penanggung jawab teknis
Eselon 1
Dr. IKHSAN, S.Psi, MM
Eselon 2
Ir. ANTIEK SUGIHARTI, M.Si
Nama PJ Teknis
Dwi Suryaning Endah Yanie, ST
Jabatan
Kepala Bidang Pangan
Alamat
Jalan Pagesangan II No. 56
Telepon
08121749490
Faksimile
-
Email
pangan.dkpp.surabaya@gmail.com
Perencanaan & Persiapan
Latar belakang, tujuan, jadwal & variabel
Latar Belakang Kegiatan
Kota Surabaya terdiri dari 31 kecamatan dan 154 Kelurahan dengan total penduduk sebesar 2,88 juta jiwa (BPS, 2023). Secara geografis terletak di bagian bawah atau Selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di antara 112° 36ā s.d 112°54ā Bujur Timur dan memanjang dari barat ke timur di antara 07° 9ā s.d 07° 21ā Lintang Selatan. Kota Surabaya di sebelah utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, sebelah timur berbatasan dengan Selat Madura, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Gresik yang memiliki wilayah daratan seluas 326,81 km2 atau 32.681 ha dan wilayah perairan (laut) diperkirakan seluas 190, 39 km2 atau 19.039 ha. Secara klimatologis, berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Juanda, suhu rata-rata berkisar antara 26,07oC hingga 29,03oC. Curah hujan cukup tinggi sepanjang tahun, tertinggi terjadi pada bulan Januari 2021 dengan curah hujan sebesar 551,8 mm (Surabaya Dalam Angka 2023)
Perekonomian Kota Surabaya tergantung pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang masih mempunyai peranan tinggi terhadap PDRB atas dasar harga berlaku. Sektor ini tahun 2022 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, di mana tahun 2022 peranannya naik dari 21,27% menjadi 28,16%. Kenaikan ini disebabkan semua sub sektor yang ada dalam sektor Perdagangan Besar dan Eceran mengalami kenaikan peranan. Selain sektor Perdagangan Besar dan Eceran, sektor yang mengalami kenaikan tahun 2022 adalah sektor transportasi dan pergudangan, yaitu dari 5,17 % menjadi 5,53% ; sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, yaitu dari 15,49 % menjadi 15,60% ; sektor Pengadaan Listrik dan Gas dari 0,41 % menjadi 0,42 %; sektor konstruksi, yaitu dari 9,36 % menjadi 9,37%; jasa lainnya, yaitu dari 1,24% menjadi 1,32% . Sementara sektor lainnya mengalami penurunan. Sektor Industri Pengolahan menunjukkan peranan sebesar 19,22 %, sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 5,57%, sektor Real Estate sebesar 2,53%, sektor Jasa Perusahaan sebesar 2,41%, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 1,29%, sektor Industri Pengolahan sebesar 19,22%, sektor Jasa Pendidikan sebesar 2,27%, sektor Pengadaan Air Pengelolaan Sampah dan Limbah Daur Ulang sebesar 0.14%, Sektor Industri Pengolahan sebesar 19,22%. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih sangat banyak hal yang harus dilakukan oleh pemerintah dan para pemegang kepentingan (stakeholder) dalam melakukan pembangunan.
Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 114 dan Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi Pasal 75 mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban membangun, menyusun, dan mengembangkan Sistem Informasi Pangan dan Gizi yang terintegrasi, yang dapat digunakan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi, stabilisasi pasokan dan harga pangan serta sebagai sistem peringatan dini terhadap masalah pangan dan kerawanan pangan dan gizi.
Informasi tentang ketahanan dan kerentanan pangan penting untuk memberikan informasi kepada para pembuat keputusan dalam pembuatan program dan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun tingkat lokal, untuk lebih memprioritaskan intervensi dan program berdasarkan kebutuhan dan potensi dampak kerawanan pangan yang tinggi. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen untuk mengelola krisis pangan dalam rangka upaya perlindungan/penghindaran dari krisis pangan dan gizi baik jangka pendek, menengah maupun panjang.
Dalam rangka menyediakan informasi ketahanan pangan yang yang akurat dan komprehensif, disusunlah Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan/Food Security and Vulnerability Atlas-FSVA sebagai instrumen untuk monitoring ketahanan pangan wilayah. Di tingkat nasional FSVA disusun sejak tahun 2002 bekerja sama dengan World Food Programme (WFP). Kerjasama tersebut telah menghasilkan Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas - FIA) pada tahun 2005. Pada tahun 2009, 2015, 2018 disusun Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas ā FSVA).
Sebagai tindak lanjut penyusunan FSVA Nasional disusun pula FSVA Provinsi dengan analisis sampai tingkat kecamatan dan FSVA Kabupaten/Kota dengan analisis sampai tingkat desa/kelurahahn. Dengan demikian, permasalahan pangan dapat dideteksi secara cepat sampai level yang paling bawah. FSVA kabupaten telah disusun sejak tahun 2012 dan dimutakhirkan pada tahun 2016. Untuk mengakomodir perkembangan situasi ketahanan pangan dan pemekaran wilayah desa/kelurahan, maka dilakukan pemutakhiran FSVA Kabupaten/Kota pada tahun 2019.
Seperti halnya FSVA Nasional dan Provinsi, FSVA Kabupaten/Kota menyediakan sarana bagi para pengambil keputusan untuk secara cepat dalam mengidentifikasi daerah yang lebih rentan, dimana investasi dari berbagai sektor seperti pelayanan jasa, pembangunan manusia dan infrastruktur yang berkaitan dengan ketahanan pangan dapat memberikan dampak yang lebih baik terhadap penghidupan, ketahanan pangan dan gizi masyarakat pada tingkat desa/kelurahan.
Pengembangan FSVA tingkat kelurahan merupakan hal yang sangat penting, dimana kondisi ekologi dan keragaman sumber penghidupan masyarakat menunjukkan adanya perbedaan situasi ketahanan pangan dan gizi di masing-masing wilayah. FSVA Kabupaten/Kota akan menjadi alat yang sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan untuk mengurangi kesenjangan ketahanan pangan
Perekonomian Kota Surabaya tergantung pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang masih mempunyai peranan tinggi terhadap PDRB atas dasar harga berlaku. Sektor ini tahun 2022 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, di mana tahun 2022 peranannya naik dari 21,27% menjadi 28,16%. Kenaikan ini disebabkan semua sub sektor yang ada dalam sektor Perdagangan Besar dan Eceran mengalami kenaikan peranan. Selain sektor Perdagangan Besar dan Eceran, sektor yang mengalami kenaikan tahun 2022 adalah sektor transportasi dan pergudangan, yaitu dari 5,17 % menjadi 5,53% ; sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, yaitu dari 15,49 % menjadi 15,60% ; sektor Pengadaan Listrik dan Gas dari 0,41 % menjadi 0,42 %; sektor konstruksi, yaitu dari 9,36 % menjadi 9,37%; jasa lainnya, yaitu dari 1,24% menjadi 1,32% . Sementara sektor lainnya mengalami penurunan. Sektor Industri Pengolahan menunjukkan peranan sebesar 19,22 %, sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 5,57%, sektor Real Estate sebesar 2,53%, sektor Jasa Perusahaan sebesar 2,41%, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 1,29%, sektor Industri Pengolahan sebesar 19,22%, sektor Jasa Pendidikan sebesar 2,27%, sektor Pengadaan Air Pengelolaan Sampah dan Limbah Daur Ulang sebesar 0.14%, Sektor Industri Pengolahan sebesar 19,22%. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih sangat banyak hal yang harus dilakukan oleh pemerintah dan para pemegang kepentingan (stakeholder) dalam melakukan pembangunan.
Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 114 dan Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi Pasal 75 mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban membangun, menyusun, dan mengembangkan Sistem Informasi Pangan dan Gizi yang terintegrasi, yang dapat digunakan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi, stabilisasi pasokan dan harga pangan serta sebagai sistem peringatan dini terhadap masalah pangan dan kerawanan pangan dan gizi.
Informasi tentang ketahanan dan kerentanan pangan penting untuk memberikan informasi kepada para pembuat keputusan dalam pembuatan program dan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun tingkat lokal, untuk lebih memprioritaskan intervensi dan program berdasarkan kebutuhan dan potensi dampak kerawanan pangan yang tinggi. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen untuk mengelola krisis pangan dalam rangka upaya perlindungan/penghindaran dari krisis pangan dan gizi baik jangka pendek, menengah maupun panjang.
Dalam rangka menyediakan informasi ketahanan pangan yang yang akurat dan komprehensif, disusunlah Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan/Food Security and Vulnerability Atlas-FSVA sebagai instrumen untuk monitoring ketahanan pangan wilayah. Di tingkat nasional FSVA disusun sejak tahun 2002 bekerja sama dengan World Food Programme (WFP). Kerjasama tersebut telah menghasilkan Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas - FIA) pada tahun 2005. Pada tahun 2009, 2015, 2018 disusun Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas ā FSVA).
Sebagai tindak lanjut penyusunan FSVA Nasional disusun pula FSVA Provinsi dengan analisis sampai tingkat kecamatan dan FSVA Kabupaten/Kota dengan analisis sampai tingkat desa/kelurahahn. Dengan demikian, permasalahan pangan dapat dideteksi secara cepat sampai level yang paling bawah. FSVA kabupaten telah disusun sejak tahun 2012 dan dimutakhirkan pada tahun 2016. Untuk mengakomodir perkembangan situasi ketahanan pangan dan pemekaran wilayah desa/kelurahan, maka dilakukan pemutakhiran FSVA Kabupaten/Kota pada tahun 2019.
Seperti halnya FSVA Nasional dan Provinsi, FSVA Kabupaten/Kota menyediakan sarana bagi para pengambil keputusan untuk secara cepat dalam mengidentifikasi daerah yang lebih rentan, dimana investasi dari berbagai sektor seperti pelayanan jasa, pembangunan manusia dan infrastruktur yang berkaitan dengan ketahanan pangan dapat memberikan dampak yang lebih baik terhadap penghidupan, ketahanan pangan dan gizi masyarakat pada tingkat desa/kelurahan.
Pengembangan FSVA tingkat kelurahan merupakan hal yang sangat penting, dimana kondisi ekologi dan keragaman sumber penghidupan masyarakat menunjukkan adanya perbedaan situasi ketahanan pangan dan gizi di masing-masing wilayah. FSVA Kabupaten/Kota akan menjadi alat yang sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan untuk mengurangi kesenjangan ketahanan pangan
Tujuan Kegiatan
1. Mengetahui gambaran Rasio jumlah sarana dan prasarana ekonomi terhadap jumlah rumah tangga 2. Mengetahui gambaran Rasio jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap jumlah penduduk kelurahan 3. Mengetahui gambaran Kelurahan yang tidak memiliki akses penghubung memadai melalui darat atau air atau udara 4. Mengetahui gambaran Rasio jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih terhadap jumlah rumah tangga kelurahan 5. Mengetahui gambaran Rasio jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk kelurahan 6. Mengetahui gambaran Peta Komposit Ketahanan dan Kerentanan Pangan Kota Surabaya
Rencana Jadwal Kegiatan
Perencanaan
8 Agustus 2024 - 9 Agustus 2024
Desain
8 Agustus 2024 - 9 Agustus 2024
Pengumpulan Data
10 Agustus 2024 - 13 Agustus 2024
Pengolahan Data
14 Agustus 2024 - 31 Agustus 2024
Analisis
1 September 2024 - 30 September 2024
Diseminasi
1 Oktober 2024 - 30 Oktober 2024
Evaluasi
1 Oktober 2024 - 30 Oktober 2024
Variabel (Karakteristik) yang Dikumpulkan 15 var
| Nama Variabel | Konsep | Definisi | Referensi Waktu |
|---|---|---|---|
| Luas wilayah per kelurahan | Luas wilayah per kelurahan | luas wilayah per kelurahan | 2023 |
| Jumlah penduduk per kelurahan | banyaknya penduduk per kelurahan | banyaknya penduduk per kelurahan | 2023 |
| Jumlah rumah tangga per kelurahan | banyaknya rumah tangga per kelurahan | banyaknya rumah tangga per kelurahan | 2023 |
| jumlah sarana dan prasarana ekonomi per kelurahan | banyaknya sarana prasarana ekonomi di tiap kelurahan, meliputi pasar, minimarket, toko, warung, restoran, dan penyedia pangan lainnya | banyaknya sarana prasarana ekonomi di tiap kelurahan, meliputi pasar, minimarket, toko, warung, restoran, dan penyedia pangan lainnya | 2023 |
| jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah per kelurahan | banyaknya penduduk dengan status kesejahteraan terendah | banyaknya penduduk dengan status kesejahteraan terendah | 2023 |
| Kelurahan yang tidak memiliki akses penghubung memadai melalui darat atau air atau udara | Kelurahan yang tidak memiliki akses penghubung memadai dengan mempertimbangkan prasarana dan sarana transportasi darat, air, atau udara. Kriteria akses penghubung yang digunakan meliputi: (1) dapat dilalui sepanjang tahun; (2) dapat dilalui sepanjang tahun kecuali saat tertentu (ketika turun hujan, pasang, dll); (3) dapat dilalui selama musim kemarau; (4) tidak dapat dilalui sepanjang tahun | Kelurahan yang tidak memiliki akses penghubung memadai dengan mempertimbangkan prasarana dan sarana transportasi darat, air, atau udara. Kriteria akses penghubung yang digunakan meliputi: (1) dapat dilalui sepanjang tahun; (2) dapat dilalui sepanjang tahun kecuali saat tertentu (ketika turun hujan, pasang, dll); (3) dapat dilalui selama musim kemarau; (4) tidak dapat dilalui sepanjang tahun | 2023 |
| jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih per kelurahan | banyaknya Rumah tangga tanpa akses ke air bersih per kelurahan, yaitu rumah tangga yang tidak memiliki akses ke air minum yang berasal dari air isi ulang, leding/PAM, sumur bor/pompa air, sumur terlindung serta mata air yang terlindung dengan memperhatikan jarak ke tempat penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat minimal 10 m (sepuluh meter). | banyaknya Rumah tangga tanpa akses ke air bersih per kelurahan, yaitu rumah tangga yang tidak memiliki akses ke air minum yang berasal dari air isi ulang, leding/PAM, sumur bor/pompa air, sumur terlindung serta mata air yang terlindung dengan memperhatikan jarak ke tempat penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat minimal 10 m (sepuluh meter). | 2023 |
| jumlah tenaga kesehatan per kelurahan | banyaknya tenaga kesehatan per kelurahan, meliputi dokter, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, pranata laboratorium, ahli gizi, sanitarian, sarjana kesehatan masyarakat, asisten apoteker, perawat gigi, pelaksana kesehatan, penata rontgen, dan tenaga kesehatan lainnya | banyaknya tenaga kesehatan per kelurahan, meliputi dokter, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, pranata laboratorium, ahli gizi, sanitarian, sarjana kesehatan masyarakat, asisten apoteker, perawat gigi, pelaksana kesehatan, penata rontgen, dan tenaga kesehatan lainnya | 2023 |
Desain Kegiatan
Frekuensi, cakupan & metode
Kegiatan ini dilakukan
Berulang
Frekuensi Penyelenggaraan
Tahunan
Tipe Pengumpulan Data
Cross Sectional
Cakupan Wilayah
Sebagian Wilayah Indonesia
Wilayah Kegiatan:
| No | Nama Provinsi | Kabupaten/Kota |
|---|---|---|
| 1. | JAWA TIMUR | KOTA SURABAYA |
Metode Pengumpulan Data
- Pengumpulan data sekunder
Sarana Pengumpulan Data
- Lainnya, Pengumpulan data sekunder dari PD terkait dilakukan dengan pengisian spreadsheet
Unit Pengumpulan Data
- Individu
Pengumpulan Data
Uji coba, petugas & pelatihan
Uji Coba (Pilot Survey)
Tidak
Metode Pemeriksaan Kualitas
- Lainnya, melakukan pertemuan verifikasi data dengan PD terkait
Penyesuaian Nonrespon
Tidak
Petugas Pengumpulan Data
-
Persyaratan Pendidikan Terendah
-
Jumlah Petugas
Supervisor/penyelia/pengawas : 0 orang
Pengumpul data/enumerator : 0 orang
Pengumpul data/enumerator : 0 orang
Pelatihan Petugas
Tidak
Pengolahan & Diseminasi
Analisis & produk
Tahapan Pengolahan Data
Penyuntingan (Editing) : Ya
Penyandian (Coding) : Tidak
Data Entry : Tidak
Penyahihan (Validasi) : Ya
Penyandian (Coding) : Tidak
Data Entry : Tidak
Penyahihan (Validasi) : Ya
Metode Analisis
Deskriptif
Unit Analisis
- Lainnya, Kelurahan
Tingkat Penyajian Hasil Analisis
- Kabupaten/Kota
Produk Kegiatan yang Tersedia untuk Umum
Variabel Kegiatan
15 variabel yang diolah/dikumpulkan
ID Variabel Indah: #214659
Jenis Tenaga Kesehatan
Integer ⢠-
["Tenaga Kesehatan"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214637
Rumah Tangga Pelanggan PDAM
Integer ⢠-
["Rumah Tangga"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214635
Akses Penghubung Sarana Prasarana
Integer ⢠-
["Sarana Prasarana"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214633
Penduduk Dengan Tingkat Kesejahteraan Terendah
Integer ⢠-
["Penduduk"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214632
Penginapan
Integer ⢠-
["Penginapan"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214629
Hotel
Integer ⢠-
["Hotel"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214617
Kelompok Pertokoan
Integer ⢠-
["Kelompok Pertokoan"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214474
Restoran/ Rumah Makan
Integer ⢠-
["Restoran/ Rumah Makan"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214445
Warung/ Kedai Makanan Minuman
Integer ⢠-
["Warung/ Kedai Makanan Minuman"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214442
Toko/ Warung Kelontong
Integer ⢠-
["Toko/ Warung Kelontong"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214437
Minimarket/ Swalayan
Integer ⢠-
["Minimarket/ Swalayan"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214436
Pasar
Integer ⢠-
["Pasar"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214379
Rumah Tangga
Integer ⢠-
["Rumah Tangga"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214370
Luas Kelurahan
Float ⢠-
["Luas Kelurahan"]Lihat ā
ID Variabel Indah: #214366
Luas Lahan Baku Sawah
Float ⢠-
["Luas Lahan Sawah"]Lihat ā
Indikator Kegiatan
6 indikator yang dihasilkan
ID Indikator Indah: #95114
Rasio jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk kelurahan
- ⢠Kelurahan
[]Lihat ā
ID Indikator Indah: #95108
Rasio jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih terhadap jumlah rumah tangga kelurahan
- ⢠Kelurahan
[]Lihat ā
ID Indikator Indah: #95070
Kelurahan yang tidak memiliki akses penghubung memadai melalui darat atau air atau udara
- ⢠Kelurahan
[]Lihat ā
ID Indikator Indah: #95065
Rasio jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap jumlah penduduk kelurahan
- ⢠Kelurahan
[]Lihat ā
ID Indikator Indah: #95063
Rasio jumlah sarana dan prasarana ekonomi terhadap jumlah rumah tangga
- ⢠Kelurahan
[]Lihat ā
ID Indikator Indah: #95044
Rasio luas lahan pertanian terhadap jumlah penduduk
- ⢠Kelurahan
[]Lihat ā