Survei Konsumsi Bahan Pokok , 2017

Tahun Kegiatan
2017
Produsen : Subdit. Stat. Pariwisata
Sektor Kegiatan : Keuangan, Niaga dan Jasa
Sumber Dana : APBN
Metadata : Dokumentasi dalam PDF

Penanggung Jawab Kegiatan

Penyelenggara

Subdit. Stat. Pariwisata

Penanggung Jawab Masalah Teknis

Subdit. Stat. Pariwisata

Penanggung Jawab Metode Pengumpulan Data

Subdit. Pengembangan Desain Sensus dan Survei

Penanggung Jawab Metode Pengolahan Data

Subdit. Integrasi Pengolahan Data

Penanggung Jawab Sumber Dana

Subdit. Stat. Pariwisata

Informasi Pengumpulan Data

Penjelasan Umum

Ketahanan pangan dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana terpenuhinya kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia. Hal ini tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Komoditas pangan sering disebut dengan bahan pokok yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Ketersediaan bahan pokok mempunyai peran yang sangat strategis dalam pemantapan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan stabilitas politik nasional, sehingga masalah ketersediaan bahan pokok mendapat perhatian yang sangat serius dari pemerintah. Sejauh ini belum tersedia informasi akurat dan menyeluruh tentang besaran konsumsi/ penggunaan bahan pokok di Indonesia. Beberapa pendekatan penghitungan konsumsi/penggunaan bahan pokok yang didasarkan dari berbagai sumber menunjukkan adanya informasi yang sangat beragam. Susenas sebagai saah satu sumber informasi konsumsi bahan pokok selama ini secara akurat hanya mampu memotret konsumsi bahan pokok yang dolah di dalam rumah tangga, sementara konsumsi bahan pokok dalam bentuk makanan jadi (diolah di luar rumah tangga) belum sepenuhnya dapat dihitung secara akurat.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

Mendapatkan angka estimasi penggunaan/konsumsi beras, jagung, kacang kedelai, daging sapi, daging ayam, bawang merah, bawang putih, cabe, tepung terigu, minyak goreng, gula pasir, dan garam pada tingkat nasional dan provinsi. Angka ini diperoleh dari jumlah bahan pokok yang digunakan oleh usaha/perusahaan.

Frekuensi Kegiatan

Tahunan

Riwayat Kegiatan

Pada tahun 2011 Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian bekerja sama dengan BPS telah melakukan kajian khusus mengenai konsumsi beras dengan berbagai pendekatan yang didasarkan pada berbagai sumber data yaitu Susenas, Survei Industri, Survei Konsumsi dan Cadangan Beras Nasional, dan Tabel Input Output. Kemudian pada tahun 2012, BPS melakukan Survei Konsumsi Beras Nasional (VKB12) untuk melengkapi data yang belum tersedia, dan untuk memastikan hasil penghitungan konsumsi beras pada tahun 2011. Berdasarkan hasil kajian tersebut dan adanya gejolak beberapa harga bahan pokok seperti cabe merah dan daging sapi pada beberapa tahun terakhir, maka dipandang perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Oleh karen itu, pada tahun 2014 dan 2015 dilakukan Survei Konsumsi Bahan Pokok dengan ruang lingkup yang lebih luas dan menambahkan komoditas-komoditas lain, seperti cabai, bawang merah, dan daging sapi. Demi ketersediaan data yang berkesinambungan, maka pada tahun 2017 kembali dilakukan Survei Konsumsi Bahan Pokok yang mencakup beberapa komoditi, seperti beras, jagung, kedelai, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam ras/bebek/itik, susu sapi segar, ikan segar dan hewan air lainnya (selain rumput laut), bawang merah, dan cabai.

Perubahan yang terjadi dari kegiatan sebelumnya

Cakupan wilayah lebih besar dari 260 kabupaten/kota pada tahun 2015 menjadi 384 kabupaten/kota pada Survei Konsumsi Bahan Pokok (VKBP) tahun 2017. Selain itu, terdapat perbedaan beberapa komoditas dari survei sebelumnya. Cakupan komoditas pada VKBP 2017 adalah beras, jagung, kedelai, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam ras/bebek/itik, susu sapi segar, ikan segar, bawang merah, dan cabai. Sementara itu untuk lembaga pemasyarakatan tidak tercakup sebagai responden pada VKBP 2017.

Frekuensi Pengumpulan Data

- Tahunan

Tipe Pengumpulan Data

Cross Sectional

Referensi yang Digunakan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.

Klasifikasi yang Digunakan

Klasifikasi/Master Wilayah:Master File Desa (MFD) Online Semester II tahun 2016 dan Blok Sensus SE 2016
Klasifikasi/Master Komoditas:Klasifikasi Baku Komoditas Indonesia (KBKI) 2013
Klasifikasi/Master Lapangan Usaha:Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2015
Klasifikasi/Master Lainnya:-

Variabel Utama dan Konsep yang Digunakan

Nama Variabel Referensi Waktu
Konsumsi/ penggunaan/ pengolahan bahan pokok 
Konsumsi/penggunaan/pengolahan bahan pokok dimaksud adalah seluruh komoditas bahan pokok yang digunakan/ diolah oleh perusahaan/usaha untuk menghasilkan suatu barang/ produk tertentu dalam rangka menjalankan usahanya. Rincian ini mencakup keterangan tentang volume/ jumlah bahan pokok yang diolah/ digunakan/ dikonsumsi oleh perusahaan/ usaha.
Bulan Maret 2017
Jenis kegiatan utama perusahaan/ usaha 
• Kegiatan utama usaha/perusahaan adalah kegiatan usaha/perusahaan yang menghasilkan nilai produksi paling besar. Jika nilai produk/jasa industri sama besar, maka kegiatan utama ditentukan berdasarkan produk/jasa industri dengan volume terbesar. Jika nilai dan volume produk/jasa industri sama besar, maka kegiatan utama ditentukan berdasarkan produk/jasa industri dengan waktu produksi paling lama. Jika nilai dan volume produk/jasa industri serta waktu produksi sama besar, maka kegiatan utama ditentukan berdasarkan pengakuan responden.
Tahun 2017

Metodologi

Cara Pengumpulan Data

Survei

Jenis Rancangan Sampel

Multi Stage/Phase

Metode Pemilihan Sampel Stage Terakhir

Sampel probabilitas

Metode Pemilihan Sampel Probabilitas

Dibagi menjadi tiga tahap: 1. Tahap pertama, memilih 384 kabupaten sampel. Dilakukan secara PPS dengan size banyaknya usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, dan industri dalam tiap kabupaten. 2. Tahap kedua, dikelompokkan menjadi dua: a. Untuk usaha UMB dilakukan pemilihan sampel secara sistematik pada kabupaten/kota tertentu, b. Untuk usaha penyediaan makan minum dan IMK pengguna bahan pokok, tahap kedua adalah pemilihan blok sensus dengan cara PPS dengan size banyaknya usaha penyediaan makan minum dan IMK pada tiap blok sensus. 3. Tahap ketiga, memilih rumah tangga usaha penyediaan makan minum dan IMK pengguna bahan pokok hasil listing pada BS terpilih dengan cara sistematik sampling.

Rancangan Sampel

Kerangka Sampel

Kerangka sampel yang digunakan terdiri dari 3 macam yaitu: 1. Kerangka sampel pemilihan tahap pertama adalah master kabupaten yang disertai dengan informasi jumlah usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, jumlah usaha jasa kesehatan, dan industri yang mengolah bahan pokok. 2. Kerangka sampel pemilihan tahap kedua adalah: a. Perusahaan direktori, Usaha Menengah Besar (UMB) dari hasil pendataan usaha Sensus Ekonomi 2016-L2 bukan merupakan jaringan usaha penunjang dengan KBLI hotel berbintang, restoran, catering, jasa kesehatan, dan industri pengolahan; b. Usaha penyediaan makan minum dan IMK pengguna bahan pokok adalah master BS dari hasil pendataan usaha Sensus Ekonomi 2016-L2 yang berisi informasi muatan jumlah usaha penyediaan makan minum dan IMK. 3. Kerangka sampel pemilihan tahap ketiga yaitu daftar rumah tangga yang mengusahakan penyediaan makan minum dan IMK dalam blok sensus terpilih.

Keseluruhan Fraksi Sampel (Overall Sampling Fraction)

(Belum Diisi)

Perkiraan Sampling Error

5%

Unit Sampel

Perusahaan/usaha menengah besar dan mikri kecil yang menggunakan atau mengonsumsi bahan pokok yang dicakup dalam survei

Alokasi Sampel

1. Tahap pertama memilih 384 kabupaten/kota sampel. 2. Tahap kedua, dibagi menjadi dua: a. Memilih sampel sebanyak 9.709 responden, meliputi: usaha hotel, restoran, catering, rumah sakit, dan IBS. b. Memilih sebanyak 9.018 sampel Blok Sensus untuk dilakukan listing usaha dalam rangka memilih responden pengolah bahan pokok pada usaha penyediaan makan minum dan IMK. 3. Tahap ketiga memilih sampel rumah tangga usaha penyediaan makan minum sebanyak 43.326 responden dan usaha IMK pengguna bahan pokok sebanyak 5.500 responden. Jadi, total sampel untuk kegiatan Survei Konsumsi Bahan Pokok tahun 2017 adalah sebanyak 58.535 perusahaan/usaha menengah besar dan perusahaan/usaha mikro kecil.

Cakupan Wilayah

Sebagian kabupaten/kota

Wilayah Kegiatan

ProvinsiKabupaten
ACEHACEH TIMUR, ACEH BESAR, PIDIE, BIREUEN, ACEH UTARA, NAGAN RAYA, KOTA BANDA ACEH, KOTA SUBULUSSALAM,
SUMATERA UTARAMANDAILING NATAL, TAPANULI TENGAH, LABUHAN BATU, ASAHAN, SIMALUNGUN, DELI SERDANG, LANGKAT, SAMOSIR, SERDANG BEDAGAI, BATU BARA, LABUHAN BATU SELATAN, KOTA PEMATANG SIANTAR, KOTA MEDAN, KOTA BINJAI, KOTA PADANGSIDIMPUAN,
SUMATERA BARATPESISIR SELATAN, SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG, PADANG PARIAMAN, AGAM, LIMA PULUH KOTA, PASAMAN BARAT, KOTA PADANG, KOTA BUKITTINGGI,
RIAUINDRAGIRI HULU, PELALAWAN, KAMPAR, ROKAN HULU, BENGKALIS, ROKAN HILIR, KOTA PEKANBARU, KOTA DUMAI,
JAMBIKERINCI, BATANG HARI, TANJUNG JABUNG TIMUR, TANJUNG JABUNG BARAT, TEBO, KOTA JAMBI,
SUMATERA SELATANOGAN KOMERING ULU, OGAN KOMERING ILIR, MUARA ENIM, MUSI BANYUASIN, BANYUASIN, OGAN ILIR, KOTA PALEMBANG, KOTA LUBUKLINGGAU,
BENGKULUBENGKULU SELATAN, BENGKULU UTARA, MUKOMUKO, BENGKULU TENGAH, KOTA BENGKULU,
LAMPUNGTANGGAMUS, LAMPUNG SELATAN, LAMPUNG TIMUR, LAMPUNG TENGAH, TULANGBAWANG, PRINGSEWU, MESUJI, KOTA BANDAR LAMPUNG,
KEPULAUAN BANGKA BELITUNGBANGKA, BELITUNG, BANGKA BARAT, BANGKA SELATAN, KOTA PANGKAL PINANG,
KEPULAUAN RIAUKARIMUN, BINTAN, NATUNA, LINGGA, KOTA BATAM, KOTA TANJUNG PINANG,
DKI JAKARTAKODYA JAKARTA SELATAN, KODYA JAKARTA TIMUR, KODYA JAKARTA PUSAT, KODYA JAKARTA BARAT, KODYA JAKARTA UTARA,
JAWA BARATBOGOR, SUKABUMI, CIANJUR, BANDUNG, GARUT, TASIKMALAYA, CIAMIS, CIREBON, MAJALENGKA, INDRAMAYU, SUBANG, KARAWANG, BEKASI, KOTA BOGOR, KOTA BANDUNG, KOTA CIREBON, KOTA BEKASI, KOTA DEPOK, KOTA TASIKMALAYA,
JAWA TENGAHCILACAP, BANYUMAS, PURBALINGGA, KEBUMEN, WONOSOBO, BOYOLALI, KLATEN, WONOGIRI, KARANGANYAR, GROBOGAN, REMBANG, PATI, JEPARA, SEMARANG, KENDAL, BATANG, PEKALONGAN, PEMALANG, TEGAL, BREBES, KOTA SURAKARTA, KOTA SEMARANG,
DI YOGYAKARTAKULON PROGO, BANTUL, GUNUNG KIDUL, SLEMAN, KOTA YOGYAKARTA,
JAWA TIMURTRENGGALEK, TULUNGAGUNG, BLITAR, KEDIRI, MALANG, JEMBER, BANYUWANGI, SITUBONDO, PROBOLINGGO, PASURUAN, SIDOARJO, MOJOKERTO, JOMBANG, NGANJUK, MADIUN, MAGETAN, BOJONEGORO, TUBAN, LAMONGAN, GRESIK, SAMPANG, SUMENEP, KOTA MALANG, KOTA SURABAYA,
BANTENPANDEGLANG, LEBAK, TANGERANG, SERANG, KOTA TANGERANG, KOTA CILEGON, KOTA SERANG, KOTA TANGERANG SELATAN,
BALIJEMBRANA, TABANAN, BADUNG, GIANYAR, KARANG ASEM, BULELENG, KOTA DENPASAR,
NUSA TENGGARA BARATLOMBOK BARAT, LOMBOK TENGAH, LOMBOK TIMUR, SUMBAWA, BIMA, LOMBOK UTARA, KOTA MATARAM,
NUSA TENGGARA TIMURTIMOR TENGAH SELATAN, FLORES TIMUR, ENDE, MANGGARAI BARAT, KOTA KUPANG,
KALIMANTAN BARATSAMBAS, LANDAK, SANGGAU, KAPUAS HULU, KUBU RAYA, KOTA PONTIANAK, KOTA SINGKAWANG,
KALIMANTAN TENGAHKOTAWARINGIN BARAT, KOTAWARINGIN TIMUR, KAPUAS, BARITO UTARA, PULANG PISAU, KOTA PALANGKA RAYA,
KALIMANTAN SELATANTANAH LAUT, BANJAR, BARITO KUALA, HULU SUNGAI SELATAN, HULU SUNGAI TENGAH, TANAH BUMBU, KOTA BANJARMASIN, KOTA BANJAR BARU,
KALIMANTAN TIMURKUTAI BARAT, KUTAI KARTANEGARA, KUTAI TIMUR, BERAU, KOTA BALIKPAPAN, KOTA SAMARINDA, KOTA BONTANG,
KALIMANTAN UTARABULUNGAN, TANA TIDUNG, TARAKAN,
SULAWESI UTARABOLAANG MONGONDOW, KEPULAUAN SANGIHE, MINAHASA SELATAN, MINAHASA UTARA, KOTA MANADO, KOTA BITUNG,
SULAWESI TENGAHBANGGAI, DONGGALA, TOLI-TOLI, PARIGI MOUTONG, KOTA PALU,
SULAWESI SELATANJENEPONTO, GOWA, SINJAI, BARRU, BONE, SOPPENG, PINRANG, TANA TORAJA, KOTA MAKASSAR, KOTA PALOPO,
SULAWESI TENGGARABUTON, KONAWE, KOLAKA, BUTON UTARA, KOTA KENDARI,
GORONTALOBOALEMO, GORONTALO, POHUWATO, KOTA GORONTALO,
SULAWESI BARATMAJENE, POLEWALI MANDAR, MAMUJU, MAMUJU UTARA,
MALUKUMALUKU TENGAH, BURU, KOTA AMBON, KOTA TUAL,
MALUKU UTARAHALMAHERA SELATAN, HALMAHERA UTARA, KOTA TERNATE, KOTA TIDORE KEPULAUAN,
PAPUA BARATFAKFAK, MANOKWARI, SORONG, KOTA SORONG,
PAPUAMERAUKE, JAYAPURA, MIMIKA, KOTA JAYAPURA,

Unit Observasi

Perusahaan/usaha yang menggunakan atau mengonsumsi bahan pokok yang dicakup dalam survei. Cakupan usaha tersebut meliputi perusahaan menengah besar dan perusahaan/usaha mikro kecil. Perusahaan menengah besar meliputi perusahaan penyediaan akomodasi (hotel bintang), perusahaan restoran berbadan hukum, perusahaan catering, rumah sakit, dan industri besar sedang (IBS), sedangkan perusahaan/usaha kecil, meliputi perusahaan/usaha penyediaan makan dan minum, serta industri mikro kecil (IMK).

Cakupan Responden

Usaha Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum, Industri Pengolahan Pengguna Bahan Pokok, dan Rumah Sakit

Menggunakan data sekunder dari unit kerja/instansi lain

Ya

Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data

Wawancara langsung

Melakukan Pilot Study

Tidak

Instrumen yang Digunakan

Kuesioner VKBP17.L, VKBP17.S

Petugas Pengumpulan Data

- Staf
- KSK
- Mitra

Jumlah Petugas Pengumpulan Data
Pengawas/Kortim0 Orang
Pencacah0 Orang
Mengadakan Pelatihan Petugas

Ya

Metode untuk mengetahui kinerja pengumpulan data

- Revisit
- Supervisi

Penyesuaian Non Respon

Penggantian Sampel

Pengolahan Data

Unit Kerja yang Melakukan Pengolahan

- Integrasi Pengolahan

Metode Pengolahan

- Batching
- Editing
- Coding
- Data Entri/Scan
- Verifikasi
- Validasi
- Tabulasi

Teknologi/Aplikasi yang Digunakan

Microsoft C #

Estimasi dan Analisis

Metode Estimasi yang Digunakan

Prosedur untuk memperoleh estimasi nasional konsumsi bahan pokok disusun berdasarkan dua estimasi, yaitu pemasyarakatan, estimasi untuk perusahaan penyedia akomodasi, restoran, rumah sakit, catering, dan IBS serta estimasi untuk perusahaan penyediaan makan minum dan IMK pengguna bahan pokok.

Komposisi dan Penimbang

-

Metode Analisis

Metode analisis: Metode analisis yang digunakan sepenuhnya didasarkan pada analisis deskriptif untuk memberikan gambaran tentang konsumsi dan penggunaan bahan pokok dimaksud. Analisis deskriptif utamanya didasarkan pada analisis tabel dan grafik.

Unit Analisis

Nasional dan Provinsi

Ada unit kerja lain yang menggunakan data ini

Ya

Kualitas dan Interpretasi Data

Perlakuan terhadap outlier, secara umum

Imputasi

Peningkatan Kualitas Data

Memperbesar ukuran sampel, mengefektifkan pengawasan dan pemeriksaan, editing coding, verifikasi dan validasi yang ketat, cek dan ricek data yang outlier.

Keterbandingan Data

Antar wilayah dan antar waktu

Metode Revisi Data

Perbaikan data yang tidak konsisten dan pemeriksaan ulang data outlier.

Evaluasi

Melakukan Studi Evaluasi

Ya

Rekomendasi untuk yang akan datang

cakupan responden diperluas baik jenis maupun ragamnya.

Diseminasi Publikasi

Judul Publikasi

Kajian Konsumsi Bahan Pokok 2017

Diseminasi Data Mikro

Ketersediaan data mikro

Dari tahun

Dokumentasi

Kuesioner

Kuesioner Pendaftaran Bangunan dan Rumah Tangga
Kuesioner Pendataan usaha/perusahaan

Pedoman

Pedoman Kepala BPS Provinsi/Kabupaten/Kota
Pedoman Pencacahan
Pedoman Pengawasan dan Pemeriksaan
Pedoman Pengolahan

Kode Label Pertanyaan Domain Value

Indikator dan Konsep yang Digunakan

Displaying 1-1 of 1 result.
Konsumsi Bahan Pokok Per Kapita
Mengkonsumsi bahan pokok (beras, jagung, kedelai, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam ras/bebek/itik, susu sapi segar, ikan segar, bawang merah, dan cabai) per kapita (di luar rumah tangga) berarti menggunakan atau mengolah bahan pokok sebagai bahan baku (input) untuk menghasilkan makanan/minuman/produk lain sebagai output dari usahanya.





























Kuesioner
Kuesioner Pendaftaran Bangunan dan Rumah Tangga 
Kuesioner Pendataan usaha/perusahaan 
Pedoman
Pedoman Kepala BPS Provinsi/Kabupaten/Kota   
Pedoman Pencacahan 
Pedoman Pengawasan dan Pemeriksaan 
Pedoman Pengolahan   
Publikasi yang dihasilkan
Nama Publikasi Jadwal Rilis Level terendah
penyajian data
Dibedakan menurut perkotaan/ perdesaan Dibedakan menurut jenis kelamin
Kajian Konsumsi Bahan Pokok 2017 -- Provinsi Tidak Tidak
Copyright © 2020 Badan Pusat Statistik. All Rights Reserved.